Apple Ikutan Jiplak Snapchat?

Snapchat tampaknya jadi inspirasi bagi perusahaan teknologi lain. Beberapa saat lalu, Instagram menghadirkan fitur “Stories” yang mekanismenya mirip Snapchat.

Kini, Apple juga dikabarkan sedang menyiapkan aplikasi Snapchat versinya, sebagaimana dilaporkan TheVerge dan dihimpun KompasTekno, Sabtu (27/8/2016).

Menurut sumber dalam, tim dari Final Cut Pro dan iMovie yang menggodok aplikasi Snapchat ala Apple tersebut. Belum jelas apa nama yang bakal diberikan ke aplikasi berbasis video itu.

Beberapa kemampuan yang mengidentikkan aplikasi itu dengan Snapchat antara lain perekaman video, pembidikan gambar, filter, dan stiker.

“Software-nya saat ini didesain untuk digunakan dengan satu tangan,” kata sumber dalam.

Menurut dia, Apple bakal meluncurkan aplikasi itu khusus untuk pengguna iOS pada 2017 mendatang. Hal ini menandai keseriusan Apple untuk terjun ke industri media sosial.

Tepatnya, Apple ingin menciptakan integrasi sosial yang menyenangkan antar sesama pengguna iOS. Belum jelas apakah kehadiran aplikasi ini akan disinggung pada event Apple, September mendatang.

Pada acara itu, Apple rencananya bakal memperkenalkan iPhone teranyar. Bocoran-bocoran spesifikasinya sudah mengemuka di ranah maya.

Advertisements

Fitur di iPhone Bakal Bikin Pencuri Ngeri

Apple sedang mengembangkan teknologi anti-maling yang bisa merekam sidik jari sekaligus memotret pencuri ponsel. Teknologi yang bakal bikin ciut pencuri iPhone ini dirinci dalam sebuah paten yang baru saja dipublikasikan.

Secara konsep, proses perekaman indentitas terjadi saat pencuri memicu sistem keamanan untuk bekerja. Pemicu yang dimaksud, antara lain berupa akses tanpa izin melalui alat tertentu atau akses yang dipaksakan dengan cara membongkar fitur keamanan.

Sistem keamanan kemudian secara otomatis bekerja merekam sidik jari siapapun yang memegang iPhone atau iPad curian tersebut. Selain itu bisa juga memotret wajah orang tersebut.

Dilansir KompasTekno dari The Verge, Sabtu (27/8/2016), dalam paten disebutkan bahwa teknologi keamanan ini antara lain bisa merekam satu atau beberapa sidik jari, foto, video, hingga suara di sekeliling pencuri.

“Data biometrik (seperti sidik jari) selanjutnya akan disimpan dan bisa dibuka untuk identifikasi,” tertulis dalam abstrak paten tersebut.

Di sisi lain, masih ada sejumlah kendala teknis. Kendala itu antara lain berupa Touch ID yang kurang sensitif dan membutuhkan beberapa kali sentuhan hanya agar bisa membaca sidik jari pengguna.

Apple disebut-sebut bakal menerapkan fitur anti-maling ini pada iPhone dan iPad generasi mendatang. Saat itu terjadi, kendala dalam hal sensitivitas Touch ID bisa saja sudah diperbaiki.

Cara Stop WhatsApp Serahkan Data Anda ke Facebook

WhatsApp kini bisa membagi data pengguna ke perusahaan induknya, Facebook, jika pengguna mengizinkan. Beberapa data yang dimaksud adalah nomor telepon dan kebiasaan pemakaian aplikasi.

Baca: Resmi, WhatsApp Serahkan Data ke Facebook

Bila tak nyaman dengan kebijakan baru dua perusahaan tersebut, ada dua cara menolaknya, sebagaimana dilaporkan TheVerge dan dihimpun KompasTekno, Sabtu (27/8/2016).

Pertama, saat mendapat pemberitahuan dari WhatsApp soal kebijakan itu, jangan serta-merta menekan “Agree”. Anda bisa menekan opsi bertuliskan “Read more about the key…”. Meski ukurannya dibuat lebih kecil, opsi tersebut terletak persis di bawah tombol “Agree”. (Baca: Ada Pesan Penting Saat Buka WhatsApp Hari Ini)

Setelah menekan opsi pembacaan lebih lanjut itu, Anda bisa menghapus centang bertajuk “Share my WhatsApp account information with Facebook”. Opsi tersebut memberi Anda pilihan untuk tak membagi informasi akun WhatsApp ke Facebook.

WhatsApp
Syarat baru penggunaan WhatsApp
Jika Anda terlanjur menekan “Agree” sebelum membaca artikel ini, ada cara kedua yang bisa dilakukan. Anda cuma perlu masuk ke menu penyetelan aplikasi lalu tekan tab akun di bagian “Settings | Account”. Kemudian hilangkan centan di pilihan “Share my account info”.

Yang harus diperhatikan, cara kedua ini hanya bisa dilakukan maksimal 30 hari sejak Facebook menampilkan pembaruan ketentuan privasi di WhatsApp.
WhatsApp
Opsi untuk menonaktifkan pilihan penyerahan data ke Facebook di aplikasi WhatsApp.

Menolak data diserahkan ke Facebook bukan berarti pengguna tidak akan mendapatkan iklan di WhatsApp. Pengguna tetap akan mendapat pesan iklan melalui broadcast di WhatsApp. (Baca: WhatsApp Dipastikan Bakal Dijejali Iklan)

Menurut keterangan resmi WhatsApp, pembagian data pengguna ke Facebook didasarkan pada alasan kenyamanan. WhatsApp mengklaim hal itu akan membantu pengguna bertemu teman di Facebook dan mendapat iklan sesuai minat di layanan yang didirikan Mark Zuckerberg itu.

WhatsApp dan Facebook menjamin tak bakal membagi atau menjual data pengguna ke pengiklan.

Riset Pekerja TI di Indonesia, UI/UX Developer Paling “Seimbang”

Divisi Teknologi Informasi (TI) di sebuah perusahaan kebanyakan dianggap sebagai cost center. Namun, pesatnya perkembangan teknologi membuat divisi tersebut tak lagi dipandang sebelah mata.

Alasannya, sistem komputerisasi terbukti membuat operasional perusahaan lebih efisien dan penunjang bisnis. Selain itu, industri TI kini menjelma menjadi sebuah industri yang menjanjikan.

Hasilnya, para pekerja di bidang TI menjadi buruan. Perusahaan-perusahaan pun memutar otak demi mempertahankan pekerja TI terbaik agar tidak “loncat”. Salah satu caranya dengan memperhatikan “work-life balance” mereka.

Meski begitu, dinamika perkembangan teknologi yang sangat cepat menuntut para pekerja TI untuk selalu siap menghadapi perubahan dan siaga setiap saat.

Jobplanet (Jobplanet.com), platform komunitas online untuk berbagi informasi seputar dunia kerja dan perusahaan, melakukan riset untuk mencari tahu seperti apa tingkat work-life balance atau keseimbangan antara hidup dan pekerjaan para pekerja TI di Indonesia.

“Tingkat work-life balance juga berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam menghadapi kesibukan dan tekanan pekerjaan tanpa mengabaikan berbagai aspek kehidupan pribadinya,” Kemas Antonius, Chief Product Officer Jobplanet di Indonesia dalam keterangan pers yang diterima KompasTekno, Jumat (26/8/2016).

Dalam riset tersebut, Jobplanet menganalisis informasi dari 6.900 responden karyawan TI dari seluruh Indonesia, yang terkumpul melalui Jobplanet.com sejak Agustus 2015 – Juli 2016. Mereka tersebar dan berasal dari sepuluh jenis industri yang berbeda.

Dari analisisnya, Jobplanet menemukan bahwa rata-rata tingkat kepuasan karyawan TI di Indonesia terhadap work-life balance mereka adalah sebesar 3,22 dari angka tertinggi 5,0 yang mewakili penilaian “sangat puas”.

Meski tingkat kepuasan para pekerja TI terhadap work-life balance mereka tidak bisa dikatakan tinggi, namun berdasarkan analisis Jobplanet, ada beberapa profesi yang memiliki tingkat work-life balance di atas rata-rata.

Android Nexus Akan Punya Penghemat Kuota Data

Maraknya aplikasi berbasis video berkontribusi terhadap borosnya pemakaian data. Untuk menghematnya, Google bakal meluncurkan fitur baru bertajuk “Wi-Fi Assistant” untuk pengguna Nexus.

Fitur penghemat data ini awalnya merupakan Project Fi milik Google yang bertujuan menghadirkan internet murah di beberapa kawasan. Mulanya, Wi-Fi Assistant hanya eksklusif sebagai fitur pengguna jaringan Project Fi.

Karena tuntutan penghematan data menjadi masif, Google pun menghadirkannya untuk pengguna Nexus yang lebih meluas. Google menjanjikan akan memboyong fitur itu secara perlahan hingga ke seluruh pengguna Nexus di dunia.

Mekanismenya sederhana, Wi-Fi Assistant memberi notifikasi tiap kali pengguna berada dalam cakupan Wi-Fi. Pengguna bisa beralih dari pemakaian data ke koneksi Wi-Fi publik secara otomatis, bahkan tanpa disadari oleh mereka (seamless). Dengan demikian, pemakaian kuota data dari operator seluler bisa lebih dihemat lagi.

“Jaga koneksi Anda berkecepatan tetap, tapi tagihan data murah,” begitu tertera di blog resmi Google, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Jumat (26/8/2016).

Meski sudah sesumbar lewat blog resminya, Google masih enggan memberi tahu tanggal pasti peluncuran fitur tersebut. Raksasa mesin pencari itu hanya berjanji akan merilisnya dalam update OS perangkat Nexus dalam beberapa minggu ke depan.

Sebagai awal, fitur ini hanya tersedia di beberapa negara meliputi Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, dan Inggris. Belum jelas kapan pengguna Nexus di Tanah Air bisa menjajal kenikmatan serupa.

4 Operator Seluler Bantah Tudingan Tak Bangun Jaringan di Luar Jawa

Kisruh aturan interkoneksi operator telekomunikasi ditengarai dua perspektif berbeda. Telkom dan Telkomsel sebagai kubu A menganggap penghitungan interkoneksi simetris tak adil karena keduanya mengklaim telah membangun jaringan hingga ke daerah, sedangkan operator lain cuma di perkotaan.

Tudingan tersebut dibantah empat operator lain, yaitu Indosat Ooredoo, XL Axiata, Smartfren, dan Hutchison Tri, yang kita sebut saja sebagai kubu B. (Baca: Pesan Bos Indosat ke XL, Smartfren, dan Tri, Jangan Takut)

Wakil Direktur Utama Tri Danny Buldansyah mengatakan semua operator yang masih beroperasi hari ini pasti sudah membangun jaringan sesuai porsinya berdasarkan modern licensing masing-masing.

“Kalau tidak penuhi komitmen modern licensing, pemerintah sudah cabut izin operasi kami sekarang,” kata dia pada rapat dengar pendapat (RDP) Komisi 1 DPR RI, Kamis (25/8/2016) di Gedung Nusantara II, Komplek DPR Senayan, Jakarta.

Danny pun sesumbar pihaknya sudah memenuhi sekitar 83 persen dari total kewajiban jaringan yang harus dibangun berdasarkan izin lisensi. Jadi, kalau dibilang tak ada itikad membangun di daerah, Danny merasa keberatan.

Presiden Direktur Indosat Ooredoo, Alexander Rusli, bernada sama. Ia mengatakan operator bernuansa kuning selalu ingin berkompetisi dan membangun jaringan di luar Jawa. (Baca: Telkomsel Ajak Operator Seluler Lain Bangun BTS di Perbatasan)

“Kami banyak membangun di luar daerah, tapi memang tidak sebanyak Telkomsel. Kakak tertua kami itu sudah menguasai 87 persen market share di luar Jawa dan profitnya besar. Kami masih rugi,” ia menjelaskan.

Alex meminta operator kecil diberi kesempatan meraup porsi di daerah. Salah satu caranya dengan menurunkan biaya interkoneksi sehingga operator kecil bisa mengeluarkan produk-produk yang lebih menarik.

Direktur Utama XL Axiata, Dian Siswarini, sepakat dengan dua rekannya. Ia mengatakan sepanjang 2016 sudah membangun sekitar 66.000 BTS. Cakupannya sudah memenuhi 93 persen dari modern licensing yang diberikan.

“Kami menggunakan berbagai strategi untuk membangun kualitas jaringan di daerah. Tantangannya memang di jalur transportasi. Pak Merza (Smartfren) kan akan bangun jalur Palapa Ring dan itu bisa bantu kami menjangkau area pelosok,” ia menjelaskan.

Pernyataan Dian ditimpali Direktur Utama Smartfren, Merza Fachys. Ia mula-mula mengatakan basis pengguna Smartfren paling kecil di antara rekan-rekannya, yakni sekitar 11 juta.

Meski demikian, jaringan Smartfren sudah menyelimuti 236 area dan terus membangun di daerah dan kota. Komitmen pembangunan ini tampak pula dari keikutsertaan Smartfren di Proyek Palapa Ring yang sedari awal diketahui tak menguntungkan.

“Konsorsium kami membangun Palapa Ring Barat dan Timur. Kami bikin backbone-nya di daerah paling pelosok,” ujarnya.

Ketimpangan kontribusi

Telkom dan Telkomsel merasa paling berkontribusi dan berkomitmen dalam memperluas jaringan di seluruh Nusantara. Direktur Utama Telkom, Alex Sinaga mengatakan, total panjang kabel optik Telkom sebagai backbone mencapai 83.370 kilometer dan akan ditambah 47.270 lagi.

“Kalau diibaratkan bumi, saat ini panjang kabel jaringan kami sudah dua kali luas bumi. Nanti bakal jadi tiga kali luas bumi,” kata dia.

Itu pula yang digarisbawahi Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah. Saat ini Telkomsel telah membangun lebih dari 120.000 BTS di seluruh pelosok yang mampu menjangkau 95 persen populasi.

“Ada 14.000 BTS kami yang rugi tapi kami tetap bangun untuk rakyat daerah,” ia menegaskan.

Menurut Ririek, jika menghitung secara asimetris dengan mempertimbangan biaya investasi operator (cost based) yang beda-beda, maka interkoneksi Telkomsel harusnya naik jadi Rp 280 bukannya turun menjadi Rp 204.

Tarif interkoneksi yang berlaku sekarang adalah Rp 250. Pada 2 Agustus lalu, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) mengeluarkan Surat Edaran yang mengatakan tarif interkoneksi turun rata-rata 26 persen dengan penghitungan simetris dan menghasilkan angka Rp 204. (Baca: Kemenkominfo Tetapkan Tarif Interkoneksi Baru)

Aturan itu rencananya disahkan pada 1 September mendatang. Kemenkominfo sendiri sudah membahas interkoneksi dengan para operator sejak Januari 2015 lalu dalam 17 kali pertemuan.

Keputusan Kemenkominfo belum memuaskan semua pihak. Telkom dan Telkomsel tak setuju dengan penurunan. Keduanya sudah mengajukan surat keberatan karena merasa tak dilibatkan untuk menyepakati interkoneksi Rp 204. Dua “induk-anak” itu menyebut Kemenkominfo tak merespons surat mereka.

Sementara itu, empat operator lainnya berharap penurunan lebih besar meski sudah mengapresiasi putusan pemerintah. Indosat, XL, Hutchison Tri, dan Smartfren sepakat bahwa penurunan interkoneksi bakal memelihara iklim kompetisi dan mencegah praktik monopoli.