Mantan Bintang Porno Tuntut Zuckerberg Bayar Ganti Rugi Rp 13 Triliun

Mantan bintang porno, Paree La’Tiejire alias Lady Paree, menuntut Facebook dan Mark Zuckerberg karena dianggap merusak karirnya. Paree mengklaim Zuckerberg tak berbuat apa-apa untuk menyetop rumor tak mengenakkan tentang dirinya yang beredar di Facebook.

Rumor tersebut menyebut Paree terlahir sebagai laki-laki. Sempat viral beberapa saat lalu, banyak netizen yang menghina Paree via Facebook.

Akibat hal tersebut, Paree mengaku kesulitan mencari pekerjaan. Ia pun membawa perkara ini ke pengadilan negeri dan menuntut Facebook beserta Zuckerberg selaku CEO sebesar 1 miliar dollar AS atau setara Rp 13,3 triliun.

“Publikasi yang intens dan disebarluaskan di Facebook merusak pendapatan Paree, juga kondisi fisik dan emosionalnya. Kerugian ini disebabkan Facebook dan Mark Zuckerberg,” begitu pernyataan pengacara Paree, sebagaimana dilapoorkan TheNextweb dan dihimpun KompasTekno, Minggu (28/8/2016).

Diketahui, Facebook adalah sebuah platform jejaring sosial di mana semua orang bebas beropini. Banyak isu yang bergulir di platform itu, sama halnya di Twitter, Instagram, dan platform lainnya.

Belum jelas apakah pengadilan negeri akan mengabulkan tuntutan Paree ke Facebook dan Zuckerberg atau tidak. Yang jelas, ini bukan kali pertama Paree melayangkan tuntutan atas isu kelahirannya sebagai lelaki.

Pada 2009 lalu, Paree menuntut rumah produksi Leisure Time Entertainment dan produser Mark Carriere di pengadilan Indiana, Amerika Serikat. Paree mengatakan rumah produksi dan produser itu melayangkan pernyataan salah bahwa ia adalah seorang lelaki yang menjadi perempuan.

Kala itu Paree memenangkan peradilan dan diberi duit 2,5 juta dollar AS atau setara Rp 33,3 miliar sebagai pengganti kerugian. Tak cuma itu, dia juga diberi 50.000 dollar AS atau Rp 666 juta sebagai hak hukumnya.

Apakah kali ini Paree akan kembali menang di pengadilan? Baik Facebook dan Mark Zuckerberg belum menanggapi isu ini.

Video Vertikal di Facebook Bakal Tiru Snapchat?

Linimasa Facebook mobile bakal lebih ramah untuk video berformat vertikal/portrait. Tak ada lagi pemotongan yang menjadikan video rasio 2:3 menjadi 1:1.

Video-video bakal ditampilkan apa adanya sesuai rasio asli. Hal tersebut disampaikan juru bicara Facebook.

“Kami tahu pengguna ingin menikmati video vertikal dengan lebih baik di Facebook, makanya kami tampilkan video vertikal lebih besar” kata dia, sebagaimana dilaporkan Engadget dan dihimpun KompasTekno, Senin (29/8/2016).

Facebook sepertinya terinspirasi dari aplikasi populer berbasis video seperti Snapchat, Periscope, dan Meerkat. Ketiganya menampilkan video vertikal hingga satu layar ponsel dengan rasio nyata.

Menurut pengamat, publikasi iklan video vertikal akan menarik view sembilan kali lipat lebih banyak ketimbang video horizontal. Barangkali fakta itu yang turut memicu upaya Facebook memperbesar tampilan video vertikal.

Video vertikal juga disebut-sebut cenderung membuat orang menonton video di perangkat mobile hingga selesai. Hal ini dikarenakan video vertikal tampak lebih besar dan pas pada layar pemakaian ponsel.

Tampilan video vertikal tanpa pemotongan di Facebook ini masih dalam tahap pengembangan. Menurut bocoran, kemampuannya akan hadir bagi pengguna Android dan iOS dalam beberapa minggu ke depan.

Teknologi Ini Bikin Wi-Fi Tiga Kali Lebih Kencang

Kendala bandwidth Wi-Fi yang berasal dari keterbatasan spektrum tak perlu lagi dipikirkan. Tim peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) telah menemukan teknologi peningkatan jaringan yang bisa memicu kecepatan Wi-Fi hingga tiga kali lipat.

Bertajuk “MegaMIMO 2.0”, sistem itu memungkinkan beberapa pemancar internet berkomunikasi pada spektrum yang sama ke beberapa penerima independen tanpa mengganggu satu sama lain.

Teknologi MIMO (multiple in multiple out) sendiri saat ini sudah dikenal dan dipakai oleh beberapa pemancar sinyal atau router. MIMO menggunakan antena yang banyak untuk menggandakan kapasitas frekuensi radio.

Sementara teknologi MegaMIMO 2.0 yang diklaim lebih efisien ini bisa dimanfaatkan para operator jaringan, sebagaimana dilaporkan BusinessInsider dan dihimpun KompasTekno, Senin (29/8/2016).

Pasalnya, tuntutan masyarakat modern terhadap mobile data berkecepatan tinggi semakin meningkat. Pada akhirnya, para penyedia jaringan harus mencari cara mengakomodir kebutuhan yang banyak dengan cara efisien.

Di Amerika Utara saja, tuntutan pemakaian data dari 2015 hingga 2020 diperkirakan mencapai 42 persen. Dalam angka, persentase itu menunjukkan kebutuhan dari 557.000-an terabyte data per bulan menjadi lebih dari tiga juta terabyte per bulan.

Banyaknya kebutuhan akan memperkecil kinerja spektrum dan melambatkan koneksi. MegaMIMO 2.0 diproyeksikan sebagai solusi.

Sistem ini masih dalam tahap uji coba. Belum jelas kapan tim MIT akan mengomersilkan MegaMIMO 2.0 untuk bisnis.

Manfaatkan GPS, Polisi Tangkap Perampas Mobil di Serang

Kepolisian Polda Metro Jaya bekerja sama dengan jajaran Mapolres Serang, Banten, menangkap pelaku pencurian mobil dengan memanfaatkan teknologi GPS (global positioning system).

Akun Facebook TMC Polda Metro Jaya melaporkan pemilik mobil, Anggi mengalami tindak kejahatan perampasan pada Jumat (26/8/2016) lalu ketika tengah berhenti di kawasan Kemang Pratama V, Bekasi. Saat itu, Anggi bersama saudaranya sedang bepergian ke daerah tersebut.

“Ibu Anggi melaporkan kepada AKBP Timin (Kasat Lantas Jakarta Timur). Timin segera menghubungi TMC Polda Metro Jaya untuk melakukan pelacakan. Jajaran anggota juga melakukan pengejaran,” kata Kepala Sub Bagian Tekinfo Polda Metro Jaya, Kompol Purwono.

Mobil Anggi menurut keterangan, telah dipasangi GPS yang langsung bisa dilacak. Dari hasil pantauan GPS, Petugas TMC Polda Metro Jaya menemukan titik koordinat mobil yang dirampas pelaku, yakni sedang berada di Jalan Ahmad Yani, Serang, Banten pada Sabtu (27/8/2016).

Petugas TMC Polda Metro Jaya meneruskan informasi tersebut ke Polres Serang dan diterima oleh Bripka Wahyu. Oleh Bripka Wahyu langsung dilakukan pengejaran terhadap pelaku.

“Dengan dipandu oleh Petugas TMC Polda Metro Jaya, Bripka Wahyu kemudian menyergap pelaku dan mengamankan barang bukti ke Polres Serang,” jelas Purwono.

Peristiwa ini menunjukkan efektifnya teknologi GPS yang dipasang di mobil. Jika terjadi tindak pencurian atau perampasan, polisi bisa dengan mudah mencari lokasi keberadaan mobil yang dicuri.

Ingkar Janji WhatsApp soal Iklan dan Facebook

Sejak diluncurkan pada 2009 lalu, WhatsApp berhasil menjaga prinsipnya sebagai layanan “bersih”. Tak ada iklan, game, stiker, kanal jualan, atau hal lain yang umumnya merecoki pengguna dalam menggunakan layanan pesan instan (chatting).

Prinsip itu mulai diragukan ketika WhatsApp diakuisisi Facebook pada 2014 lalu. Netizen curiga ada udang di balik batu atas keputusan Facebook.

Pasalnya, pendapatan utama Facebook berasal dari iklan. Dengan pertumbuhan pengguna WhatsApp yang pesat, tak menutup kemungkinan Facebook bakal memanfaatkan database layanan itu untuk kebutuhan pengiklan.

CEO WhatsApp, Jan Koum, menampik kecurigaan tersebut. Ia berjanji tak akan ada yang berubah dari layanan yang ia rintis pasca dicaplok sang raksasa jejaring sosial. Facebook dan WhatsApp, kata dia, bakal jadi dua layanan yang beroperasi sendiri-sendiri tanpa saling mengintervensi kebijakan perusahaan masing-masing.

Diduga ingkar janji

Dua tahun pasca diakuisisi, WhatsApp mulai menunjukkan gelagat ingkar janji. Layanan bernuansa hijau itu menghapus biaya berlangganan 1 dollar AS per tahun pada Januari 2016. Artinya, layanan chatting itu bisa digunakan secara cuma-cuma untuk selamanya.

Masalahya, biaya iuran itu merupakan satu-satunya pemasukan WhatsApp selama ini. Lantas, dari mana WhatsApp dapat duit jika pungutan itu dipangkas?

Pertanyaan itu kembali mengundang kecurigaan. Netizen lagi-lagi mengendus niatan Facebook memanfaatkan WhatsApp sebagai mesin penghimpun database bagi pengiklan. Apalagi pengguna aktif WhatsApp sudah menyentuh angka 990 juta atau sepuluh juta menuju 1 miliar.

Apple Insider
CEO WhatsApp, Jan Koum
Koum pun angkat bicara melalui sebuah postingan di blog. Ia memaklumi kekhawatiran pengguna dan menegaskan sekali lagi bahwa WhatsApp tak bakal menghadirkan iklan pihak ketiga atau menjual data pengguna ke pengiklan.

“Orang-orang mungkin bertanya bagaimana kami menjalankan WhatsApp tanpa menarik biaya langganan, atau khawatir bahwa pengumuman ini bakal menandai kehadiran iklan pihak ketiga. Jawabannya adalah tidak akan ada iklan,” ia menuliskan.

Baca: Dibeli Facebook, WhatsApp Janji Tidak Berubah

Sebagai ganti pemasukan yang hilang, WhatsApp menyatakan bakal menjajaki kemungkinanan menawarkan sejumlah layanan berbayar untuk pengguna korporat. Intinya, WhatsApp nantinya bisa dipakai oleh entitas bisnis untuk berkomunikasi dengan pelanggan masing-masing tanpa perlu membayar biaya tambahan lain. Netizen pun kembali lega.

Benar-benar ingkar janji

Baru beberapa bulan berjanji tak bakal bersahabat dengan iklan, kini WhatsApp seakan menelan ludahnya sendiri. Dua hari lalu, Jumat (26/8/2016), ada pesan berupa pembaruan syarat pemakaian dan kebijakan privasi pada aplikasi WhatsApp.

Pertama, untuk beberapa bulan ke depan, WhatsApp akan menghadirkan fitur iklan dalam layanannya. Iklan tersebut tidak berbentuk banner, melainkan pesan broadcast dan Facebook Ads.
WhatsApp
Syarat baru penggunaan WhatsApp
Kedua, WhatsApp menyebut bakal membagikan data pengguna ke Facebook. Data itu terdiri dari nomor telepon dan pola tingkah laku penggunaan aplikasi. Untungnya, pengguna bisa menolak ketentuan baru tersebut.

Baca: WhatsApp Dipastikan Bakal Dijejali Iklan

Saat mendapat pemberitahuan dari WhatsApp soal kebijakan itu, jangan serta-merta menekan “Agree”. Anda bisa menekan opsi bertuliskan “Read more about the key…”. Meski ukurannya dibuat lebih kecil, opsi tersebut terletak persis di bawah tombol “Agree”.

Setelah menekan opsi pembacaan lebih lanjut itu, Anda bisa menghapus centang bertajuk “Share my WhatsApp account information with Facebook”. Opsi tersebut memberi Anda pilihan untuk tak membagi informasi akun WhatsApp ke Facebook.

Jika Anda terlanjur menekan “Agree” sebelum membaca artikel ini, ada cara kedua yang bisa dilakukan. Anda cuma perlu masuk ke menu penyetelan aplikasi lalu tekan tab akun di bagian “Settings”. Kemudian hilangkan centang di pilihan “Share my account info”.

Yang harus diperhatikan, cara kedua ini hanya bisa dilakukan maksimal 30 hari sejak Facebook menampilkan pembaruan ketentuan privasi di WhatsApp. Lagi pula, menolak data diserahkan ke Facebook bukan berarti pengguna tidak akan mendapatkan iklan di WhatsApp. Pengguna tetap akan mendapat pesan iklan melalui broadcast.

Baca: Resmi, WhatsApp Serahkan Data ke Facebook

Menurut keterangan resmi WhatsApp, pembagian data pengguna ke Facebook didasarkan pada alasan kenyamanan. WhatsApp mengklaim hal itu akan membantu pengguna bertemu teman di Facebook dan mendapat iklan sesuai minat di layanan yang didirikan Mark Zuckerberg itu.
Apapun alasannya, WhatsApp sudah mengingkari dua janji. Pertama, janji bahwa WhatsApp akan tetap menjadi layanan independen yang tak bakal diintervensi Facebook dalam pengoperasiannya. Kedua, janji untuk tak menghadirkan iklan bagi pengguna.

Meski demikian, WhatsApp dan Facebook menjamin tak bakal serta-merta membagi atau menjual data pengguna ke pengiklan. Entah janji itu masih bisa dipegang atau bakal kembali diingkari. Hanya waktu yang bisa menjawab.

Fujifilm Coba Merayu Fotografer DSLR

Minggu lalu, Fujifilm Indonesia mengadakan photo trip ke sejumlah daerah di kepulauan Nusa Tenggara. Mengajak serta sejumlah fotografer ternama, perjalanan bertajuk “Xpedition X-T2” ini dimaksudkan sebagai ajang unjuk gigi kamera mirrorless terbaru Fujifilm, X-T2.

Para peserta diajak menguji X-T2 dalam memotret aneka macam subyek foto, mulai dari landscape pantai, taburan bintang di langit, hingga satwa liar. Dengan begini, Fujifilm berharap fotografer-fotografer di Tanah Air bisa mengetahui kebolehan X-T2, terutama mereka yang selama ini menggunakan DSLR tradisional.

“Kami memang menyasar para profesional yang biasa memakai DSLR dengan X-T2, supaya mereka mau beralih ke Fujifilm,” ujar Electronics Imaging Sales Manager Fujifilm Indonesia Wawan Setiawan ketika ditemui KompasTekno di sela acara.

Dia melanjutkan, dari segi bentuk fisik, mirrorless seri X-T dari Fujifilm memang sengaja dirancang agar mirip dengan DSLR. Electronic Viewfinder (EVF) kamera ini ditempatkan di dalam “punuk” di bagian tengah. Sisi depannya pun dibekali tonjolan handgrip supaya mudah digenggam seperti DSLR.

Desain seri X-T berbeda dari seri X-Pro yang sama-sama duduk di puncak hierarki kamera mirrorless Fujifilm. Seri X-Pro yang memiliki bentuk serupa rangefinder jadul (EVF di sisi kiri, bukan di dalam punuk) disebut Wawan lebih cocok untuk para pehobi foto yang gemar street photography atau membawa kamera untuk traveling.

“Nah, kalau X-T2 ini lebih sesuai untuk profesional, misalnya dipakai wedding photography, membuat company profile, atau fotografi komersil,” imbuh dia.

Fujifilm
Articulating LCD pada Fujifilm XT-2
X-T2 sendiri mengusung sejumlah perubahan dibanding kamera sebelumnya, X-T1. Fujifilm menanam sensor baru dengan resolusi 24 megapiksel, juga kemampuan merekam video 4K.

Dari sisi luar, X-T2 kini dibekali joystick khusus untuk memilih AF point layaknya DSLR profesional. Ada juga layar flip screen yang bisa ditekuk dalam orientasi portrait (selain landscape) sehingga mempermudah pemotretan low-angle.

Fujifilm Indonesia berencana mulai menjual X-T2 di pasaran Indonesia mulai akhir September mendatang. Banderol harganya dipatok di kisaran Rp 20 juta untuk versi body only.

Perbarui iOS iPhone dan iPad Saat Ini Juga

Apple mengimbau pengguna iPhone dan iPad untuk memperbarui iOS ke versi teranyar 9.3.5 saat ini juga. Pasalnya, OS mobile itu sudah dilengkapi tambalan untuk kerentanan keamanan serius.

Beberapa hari lalu, terungkap celah berbahaya pada iOS 9 versi sebelumnya. Celah itu meliputi kemungkinan pengeksekusian kode sewenang-wenang, akses ke kernel memori, dan akses ke hak-hak khusus kernel.

Ketika dikombinasikan, tiga celah utama itu memungkinkan penjahat cyber melakukan jailbreak yang merugikan pengoperasian perangkat, sebagaimana dilaporkan TheVerge dan dihimpun KompasTekno, Senin (29/8/2016).

Setelah di-jailbreak, si penjahat cyber bisa menanamkan program jahat, membuka pesan yang terenkripsi, mendeteksi pergerakan smartphone, dan mengakses microphone perangkat secara diam-diam.

Celah itu sendiri ditemukan oleh firma keamanan Citizen Lab dan Lookout. Mereka melaporkannya ke Apple, sehingga pabrikan Cupertino itu segera memperbaikinya melalui versi 9.3.5.

Apple
Ilustrasi iOS 9.3

Diketahui, saat ini beberapa pengembang sedang menguji coba sistem operasi iOS 10. Pertanyaannya, apakah celah dari iOS 9 terlanjur terbawa ke iOS uji coba itu?

Juru bicara Apple menampiknya. Menurut dia, selama penguji versi beta menginstal versi terbaru iOS 10, celah pada iOS 9 sebelumnya tak bakal terbawa.

“Eksploitasi celah keamanan sudah diperbaiki di iOS 10 terbaru,” kata dia.

Bagi Anda yang belum memperbarui iOS ke versi 9.3.5, sebaiknya segera masuk ke “Settings” dan tekan tombol “Update” atau buka tautan ini. Jangan sampai kerentanan versi iOS 9 terlanjur membuat perangkat Anda “disusupi” orang lain.